Selasa, 29 Maret 2016

PILIHAN



                                                                     “pilihan”

Senyuman ituu.. senyuman yang selalu membuatku nyaman saat bersamanya.. merasa tenang berada disampingnya tapi semua itu telah pudar ketika seseorang dalam masa lalunya kembali padanya dan dengan mudah dia menerima kehadirannya. 

“pagi Al, kenapa muka kamu kusut gitu?” Tanya Shelina
“aku nggak papa kok, Cuma lagi gak enak badan aja” jawabku.
“kamu jangan bohong sama aku Al, kita sudah sahabatan dari kecil. Jadi aku tau mana kamu lagi ada masalah atau kamu lagi sakit” ucapnya sambil memegang pundakku.
“tidak Shel, serius deh” ucapku meyakinkan.
“tidak tidak, aku tidak percaya. Kamu sedang memikirkannya?  Alena aku sudah berapa kali bilang sama kamu buat lupain dia”
“berkali kali” jawabku dengan pandangan kosong.
“stop buat inget dia, sekarang ikut aku ke kantin” ajaknya sambil berdiri dari bangkunya.
“aku malas shel, kamu sendiri saja”
“ahh tidak, kemana pun kita selalu berdua. Sudah jangan nolak!” ajaknya sambil menarik tanganku menuju kantin.

#SKIP

Aku tak tau kenapa wajahnya memenuhi pikiranku, oh tidak aku tidak mungkin menyukainya. Dia musuhku sampai kapanpun akan seperti itu. 

“woyyy!! Melamun aja kamu!” tepuknya mengagetkanku.
“astaughfirullah. Kalau aku jantungan gimana?”
“kan belum hahaha. Lagian kamu sedang melamunkan siapa?”
“ahh tidakk, aku tidak sedang melamunkan siapa siapa”
“kamu bohong, aku tidak percaya”
“kan aku sudah bilang aku tidak melamunkan Alena”
“nahh kan ketahuan, padahal aku tidak menyebutkan Alena tadi”
“arghh sudah lupakan!”
“kamu menyukainya kan Zi?” Tanya nya menatapku curiga.
“tidakk Ryan! Kamu sok tau sekali!” elakku.
“sudah jujur saja, jangan nutupin dari aku!” desaknya.
“iya aku menyukainya! Puas kamu?” jawabku sedikit keras hingga membuat beberapa anak menoleh.
“hahaha seharusnya kamu menyadarinya dari awal, bahwa kamu menyukainya” 

Aku hanya menanggapinya dengan deheman tanpa melihat kearahnya. Aku meninggalkan nya di lapangan, dan berjalan menuju kantin. Saat aku menuju kantin, aku bertemu dengan Alena. Wajahnya tampak pucat, apakah dia sakit. Ah aku khawatir terhadapnya. Kenapa harus memaksakan diri jika kamu sakit Ale. Saat aku berpapasan dengannya, ia tak melihat ke arahku dan terus menerus menunduk, sedangkan tangannya di gandeng oleh sahabatnya Shelina. 

“eh kenapa dia shel? Seperti mayat hidup” ledekku yang sebenarnya sangat khawatir.
“lagi galauu!!” balas Shelina terkekeh saat melihat tatapan tajam dari Alena.
“masih jaman galau? Cewek biang rusuh kayak kamu bisa galau?” ledekku.
“kamu nggak usah ikut campur” tunjukknya ke arahku.
Aku melihat mukanya yang semakin pucat, dan tubuhnya sedang tidak seimbang. Tak selang beberapa lama akhirnya ia pingsan, sontak aku yang sedang berhadapan dengannya langsung menangkap tubuhnya dan menepuk-nepuk pipinya.
“astagaa alee kamu kenapaa? Bangun Al” ucap Sheli khawatir.
“kita bawa ke UKS saja Shel” sahutku yang mendapat respon anggukan dari Shelina langsung membawa Ale ke UKS.
Sesampainya di UKS aku membaringkan tubuhnya pelan pelan. Aku memegang keningnya yang ternyata sudah demam.
“Ale demam Shel, ambilin kompresan dong” ucapku sangat khawatir.
“iya iya tunggu bentar” ucapnya berlari mencari kompresan dan tak lama kemudian ia kembali membawa kompresan.
Aku memeras sapu tangan yang sudah terendam air hangat dan meletakkan di atas dahi Ale.
“diaa kenapa bisa sakit gini Shel?” tanyaku pada Sheli.
“lagi kepikiran sesuatu aja Zi” balasnya.
“sesuatu apa?” tanyaku penasaran.
“masa lalu nya” jawabnya lagi.
“ada apa dengan masa lalunya?”
Lalu Sheli menceritakan kisah masa lalu Ale padaku, aku semakin khwatir pada gadis di hadapanku ini. Cewek yang selalu berdebat denganku ini ternyata mempunya masa lalu yang buruk. Aku akan berusaha membahagiakannya dengan cara apapun.
“Zi, kamu menyukai Ale? Bukannya kamu dengannya bermusuhan?”
“iyaa aku menyukainya, dan aku baru menyadarinya sekarang. Bantu aku buat memiliki dan menjaganya Shel”
“iyaa aku akan membatumu jika kamu ingin membahagiakan Ale. Kebahagiaan Ale, kebahagiaan ku juga. Tolong jangan buat dia sakit”
“iyaa aku akan berusaha untuknya. Terima kasih kamu telah mendukungku”
“apapun untuk Ale” balasnya dengan tersenyum. “tolong jagain Ale, aku mau membelikan makanan. Sepertinya maagnya kambuh”  ucapnya meninggalkan aku berdua dengannya.
“kamu kuat Le, sadar dongg. Aku sayang kamu. jangan bikin aku khawatir”  ucapku sambil membelai rambutnya dan mengganti kompresannya.
Tak beberapa lama, Ale menggeliat dan perlahan membuka matanya. Ia memegang pelipisnya dan mengerjapkan matanya mencoba membiasakan cahaya yang masuk ke mata nya. “aku dimana? Aku kenapa?”
“kamu di UKS, kamu tadi pingsan. Jadi orang kalo nggak kuat nggak usah di paksa. Sok sok an kuat, padahal rapuh” omelku.
“kamu ngapain di sini? Terserah aku dong, apa peduli mu?” ucapnya sambil berusaha bangun dari bednya.
“jelas aku peduli sama kamu, aku itu sayang sama kamu” ucapku membuatnya kaget.
“apa? kamu sayang sama aku? Hahaha nggak salah tuh?” ucapnya sambil meledek.
“Le, jangan sakitin diri sendiri. Lupain masa lalu kamu, aku sayang sama kamu. aku bakal bikin kamu bahagia sama aku” ucapku sambil memegang kedua pundaknya.
“aduhh Ji, jangan becanda dehh. Lagi sakit juga malah ngajak becanda”
“Le, lihat mata aku. Apa aku kelihatan becanda?” paksaku meyakinkannya.
Aku menatap matanya dan mencari kebohongan di sana. Tapi aku tak menemukannya. Justru aku menemukan sebuah kejujuran di sana. Ah Jioo jangan buat aku berharap aku nggak mau terulang dua kali. Jujur aku juga menyukainya sejak ia sering menjaili ku tapi aku berusaha menghilangkan perasaanku untuknya. Aku sadar bahwa aku dengannya hanya sebatas musuh, dan itu tak lebih. Suara memanggil namaku, membuatku tersadar dari alam bawah sadarku.

“Le! Kamu kenapa diem? Boleh aku jagain kamu, lindungi kamu, bahagiain kamu dengan cara ku?” Tanya Zio dengan penuh ketulusan.
“Ji, tapi aku..” ucapnya terpotong oleh Zio.
“Le, kamu gak mau seperti ini lagi kan? Stop buat inget semua tentang dia, dan mulai berjalan bersamaku”
Ale Nampak berfikir. “gimana Le?”
Zio bener aku nggak mungkin terpuruk pada satu titik. Ini hidupku aku tak akan merusaknya hanya karena masa lalu ku. Pilihan ku, ZIO
“aku mau berjalan bersama mu Ji”
“beneran Le? Kamu nggak bohong kan?”  tanyaku padanya.
“apa aku terlihat sedang berbohong?” Tanya nya.
“tidakk tidakk kamu tidak berbohong dan jangan berbohong. Makasih Le” ucapku sambil memeluk tubuhnya.
“ughh iyaa dehhh, jangan kenceng dong Ji, masih sakit inii!” ucapnya sambil cemberut.
“hehehe iyaa maaf Le, aku kesenengan” ucapku melepas pelukannya.
“huhh dasar” ucapnya sambil tersenyum.
Tak selang beberapa lam. Shelina masuk UKS dan membawakan makanan untuk Ale. Ah ganggu saja si Sheli, gatau orang lagi asyik apa. hahaha.
“nih aku bawain makanan. Lhaa udah sadar Le?” Tanya Sheli.
“sudah Sheli, kamu kemana saja? Kenapa nggak nemenin aku?” ucapnya sambil menggembungkan pipinya seperti anak kecil.
“aku tadi habis beli makan nih buat kamu, lagian kan udah di jagain sama si Zio kesayangan” ucapnya sambil meledekku.
“heh aku kesayangannya Ale, bukan kesayangan mu!” ucapku tanpa sadar membuat Ale malu.
“ahh iyaadahh yang udah jadiann. Duhh gaasik banget kalian jadian di UKS. Horror tau nggak!” ucapnya lagi.
“belom sempet prepare kalo tau Ale drop gini”
“yaudahlah terserah, nih Le makan dulu trus obatnya di minum. Maag kamu kambuh tuh pasti”
Ale menggelengkan kepalanya saat mendengar kata “obat” . “yaelahhh Le, jangan kek gini dong. kamu masuk RS lagi mau? Ketemu sama banyak benda” di sana, jarum suntik, trus kamu di bawa pake Ambulance” ucapnya yang seperti menakut-nakuti Ale.
“nggakkkkkkkkk… hihh kamu jahat banget sih sama aku Shelinaaaaa” ucapnya cemberut membuat ku gemas padanya.
“makannya makan trus minum obat biar nggak masuk RS. Nih” ucap Sheli sambil memberikan makanan dan meletakkan minuman dan obatnya di atas laci sebelah bed nya.
“iyaaa aku makan PUASS?!!” ucapnya sambil memakan makannya dengan wajah kesal.
“hahaha kamu nurut dong sama Shelina, itukan juga demi kebaikan kamu Le
“tuh dengerin kalo Pacar ngomong! By the way, kalian jadian aku dapet traktiran kann?” ucapnya sambil memainkan alisnya.
“minta sama Jio noh” ucapnya dengan mulut penuh dengan makanan.
“dihh kok aku doangg, ya sama kamu dong”
“nggak lahh! Kan kamu yang nembakk!” ucapnya jutek.
“yaelahhh kalah omongan lagii akuuu!”
“hahahahahahahahah” tawa Shelina meledak memenuhi ruang UKS tersebut.


~END
Jangan lihat ke belakang kalau di depan kebahagiaan sudah menantimu. Stop buat ingat masa lalu, karena semua itu hanya akan memperburuk keadaan hatimu dan membuatmu lupa bahwa masih ada masa depan. Look ahead and don’t turn to the back. Move On! Take it or Leave it! Do your best for youJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar